MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INSANI : PLPG IAIN RADEN INTAN LAMPUNG 2012


MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INSANI

Hakekat belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Dalam bahasa Bloom belajar adalah perubahan tingkah laku baik yang menyangkut pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Secara lebih tajam dalam perspektif Islam belajar adalah perubahan prilaku sebagai pengejawantahan perubahan struktur ruhani yang in ballancing. Belajar adalah upaya menempatkan kembali dan mekokohkan posisi hati sebagai penguasa ruhani, akal sebagai pengendali segenap aktifitas nafsu –baik seksual maupun agresifitas- yang terwujud dalam prilaku fisik (psikomotorik).
Proses pembelajaran dalam pendidikan Agama Islam adalah proses restrukturisasi dan pensucian ruhani. Dalam bahasa al-Ghazali pendidikan Agama Islam adalah proses penyembuhan ruhani yang sakit. Karena menurut al-Ghazali, jiwa manusia itu ada yang terjaga dalam kesehatan original (al-sihhah al-ashliyyah) yakni jiwa para nabi, dan jiwa yang sakit yakni jiwa-jiwa manusia lainnya. Karena kesehatan, kesucian dan keasliannya jiwa para nabi menjadi cerdas dengan sendirinya mampu menagkap segenap sinyal metafisik (wahyu). Ia tidak pernah terdinding dari kebenaran berkat kemurnian fitrahnya. Mereka tidak memerlukan pendidikan manusia, tetapi didik langsung oleh Allah melalui malaikat Jibril. Sementara jiwa manusia lainnya menjadi mutlak membutuhkan pendidikan untuk mengobati sakitnya itu. (Al-Ghazali, 1994, 73)
Dalam kitab al-Risalah al-Ladunniyah al-Ghazali membagi model pendidikan itu menjadi dua yaitu pembelajaran humanistik (al-ta’lim al-insaniy) dan pembelajaran transendental (al-ta’lim al-rabbaniy).. (Al-Ghazali, 1994, 68-74)
Proses pembelajaran humanistik (al-ta’lim al-insaniy) dapat berupa dua bentuk yaitu proses belajar dari dalam diri ke luar melalui kontemplasi (tafakkur) dari dapat juga dari luar ke dalam diri manusia. Pembelajaran humanistik (al-ta’lim al-insaniy) yang lebih bernuansa horisontal biasanya melalui tatap muka di kelas. Pembelajaran ini meliputi kegiatan mengorganisasikan pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar-mengajar, menilai proses dan hasil belajar yang kesemuanya merupakan tanggung jawab guru.
Pada model pembelajaran ini semestinya Muslim tida terjebak untuk menerapkan pendekatan sufistik yang amat ketat yang memang berlaku dalam pembelajaran transendental (al-ta’lim al-rabbaniy), dimana murid tidak boleh memiliki aktifitas lain selain diam. Dalam pembelajaran humanis yang lebih empiris dan rasional sangat baik bila dipakai berbagai model yang sudah diuji efektifitasnya oleh para pakar pendidikan.
Model-model pembelajaran tersebut terus dikembangkan oleh para pakar pendidikan, guna mengoptimalisasikan proses belajar mengajar yang ada. Cara belajar yang theacer centered, sebagai bentuk cara belajar guru aktif, siswa pasif sudah lama dialihkan menjadi student centered, yakni cara belajar siswa aktif. Perubahan ini dimaksudkan untuk memberikan penekanan akan pentingnya memeberikan ruang yang lebih luas pada peserta didik. Karena sesungguhnya tidak akan pernah ada bentuk pendidikan yang benar-benar guru saja yang aktif atau sebaliknya. Cara belajar student centered (CBSA) ini juga diikuti dengan penawaran jenis belajar yang baru. Yaitu dari belajar konsep menjadi belajar proses. Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar pada pemahaman terhadap fakta dan prinsip dan banyak bergantung pada penjelasan guru (bahan/ isi pelajaran) serta dominan kognitif. Sedangkan belajar proses (ketrampilan proses) menekankan pada bagaimana pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.
Namun demikian belajar konsep tidak bisa dipertentangkan secara ekstrim dengan belajar proses. Keduanya berada di dalam garis kontinum, dimana yang satu lebih mengutamakan pada penghayatan proses dan yang lain lebih menekankan pada perolehan hasil, pemahaman fakta dan prinsip. Belajar ketrampilan proses tidak mungkin terjadi bila tidak ada materi yang akan dipelajari. Begitu juga dengan belajar konsep tidak akan bisa dilaksanakan tanpa ketrampilan proses. Pada pembelajaran yang bersifat ekspositori, belajar konsep dengan tingkat keterlibatan siswa yang terbatas mungkin lebih efektif. Sementara ketrampilan proses lebih efektif diberlakukan pada modus pembelajaran discovery yang membutuhkan tingkat keaktifan siswa cukup tinggi.
Model baru yang kini lagi gencar-gencarnya dipromosikan adalah quantum learning. Jika pada belajar konsep dan proses, konsentrasi pengembangan pada peserta didik. Pada model pembelajaran quantum learning ini konsentrasi pengembangan lebih diarahkan pada penciptaan kondisi dan situasi belajar yang menyenangkan. Ini berarti titik tekannya lebih pada optimalisasi pengelolaan kelas. Bobbi De Porter dalam hal ini menyakini benar bahwa belajar baru efektif dalam suasana gembira. Kami percaya bahwa belajar adalah proyek sepanjang hayat yang dapat dilakukan orang dengan penuh ceria dan sukses. Kami percaya bahwa keseluruhan kepribadian sangat penting; intelek, fisik dan emosi. Dan kami percaya bahwa harga diri yang tinggi adalah unsur pokok dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia. (Porter, 1992: 8)
Lebih lanjut Porter mengatakan bahwa untuk mendukung falsafah ini, kami berusaha menciptakan lingkungan belajar begitu rupa sehingga mereka merasa penting, aman dan menyenangkan. Ini dimulai dari lingkungan fisik yang dipercantik dengan tanaman, seni, dan musik. Ruang belajar harus terasa menyenangkan agar belajar optimal. Lingkungan emosional juga penting. Dalam program yang kami selenggarakan, para pengajar sangat ahli dalam menciptakan hubungan akrab dengan siswanya. (Porter, 1992: 8) Yang terpenting dalam model pembelajaran quantum learning ini adalah penciptaan situasi dan kondisi kelas serta hubungan guru-murid yang menyenangkan.
Hal terpenting yang dapat diambil dari tiga model pembelajaran tersebut –belajar konsep, proses dan quantum learning- adalah bahwa untuk menjadi bermakna dan optimal pembelajaran harus memperhatikan tiga hal: yaitu siswa, lingkungan belajar dan suasana emosional pendidik-peserta didik. Dalam bahasa sederhana ketiga point harus optimalisasikan. Guru harus benar-benar memahami, kapan, pada materi apa siswa mesti aktif, dan pada saat kapan ia harus pasif. Sekolah harus bisa memanipulasi lingkungan belajarnya menjadi tempat yang menyenangkan. Sedangkan hubungan emosional guru-murid harus terbina dengan penuh keakraban.
Jika ketiga persoalan di atas disusun secara hirarkis berdasarkan tingkat urgensinya, maka tampaknya dalam masalah model pembelajaran yang efektif itu hubungan emosional guru-murid merupakan faktor yang paling menentukan proses pembelajaran. Kemudian masalah keaktifan siswa dan lingkungan belajar yang kondusif.
Bagaimanapun juga guru adalah pusat perhatian dan pemegang kendali proses pembelajaran. Maka suasana emosional yang terbangun antara guru dan murid akan sangat menetukan minat dan motivasi belajar peserta didik. Guru tidak boleh mengorbankan kedekatan dengan peserta didik hanya karena alasan menjaga kewibawaan. Walaupun benar bahwa hilangnya batasan guru dan murid dapat melunturkan kewibawaan tersebut.
Untuk bisa menampilkan model pembelajaran seperti dikehendaki oleh quantum learning sekolah harus menyediakan dana yang cukup besar –untuk tidak menyebut sangat-. Model quantum learning akan sangat cocok untuk sekolah-sekolah unggulan yang memang memiliki dukungan dana yang kuat. Sementara bagi sekolah-sekolah reguler quantum learning akan dihadapkan pada problem finansial.
Kalau untuk menunjang belajar proses (CBSA) saja, banyak terkendala oleh tidak tersediakannya sarana-prasarana yang memadahi seperti: meja-kursi yang mudah digerakkan dan ringan (mobile), perpustakaan yang lengkap. Apalagi quantum learning yang semestinya membutuhkan ruangan ber-AC, bersih, indah, ada peredam suaranya, dengan musik-musik klasik mengiringi proses belajar mengajar, akan sangat sulit diterapkan secara ideal. Pada akhirnya meskipun kita sangat setuju dengan model quantum learning tampaknya kita mesti realistis bahwa tampilan quantum learning perlu inovasi kreatif dari sang guru (sekolah) itu sendiri. Pada prinsipnya guru harus berusaha semaksimal mungkin mengelola kelas menjadi bersih, indah, dan menyenangkan walaupun dalam taraf yang sangat minimal.
Beberapa hal lain yang harus dipertimbangkan guru dalam pengembangan pembelajaran PAI adalah menyangkut masalah tujuan pembelajaran, pendekatan, prosedur, metode dan penetapan norma dan kriteria penilaian.
A. Identifikasi spesifikasi dan kualifikasi perubahan prilaku yang diharapkan.
Perumusan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku yang diharapkan dituangkan dalam SK-KD dan Indikator (tujuan instruksional khusus). Perumusan tersebut harus mempertimbangkan arah ranah yang mau dicapai. Yang perlu diingat bahwa pendidikan agama tidak cukup berhenti hanya pada tataran kognitif secerdas apapun ataupun psikomotorik setrampil apapun. Yang lebih perlu diperhatikan adalah aspek afektifnya –meminjam istilah Bloom-. Penanaman nilai menjadi sebuah kebiasaan adalah harus tampak dominan dalam penyusunan spesifikasi dan kualifikasi yang hendak dicapai melalui proses pembelajaran. Internalisasi nilai itu berfungsi menghidupkan kembali suara hati peserta didik sehingga nafsu dapat dikendalikan oleh akal, sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Perumusan spesifikasi dan kualifikasi tersebut kemudian dituangkan dalam kata-kata operasional yang sederhana dan mudah difahami oleh anak. Karena pemahaman anak terhadap arah kegiatan belajar akan sangat membantu suksesnya pembelajaran itu sendiri.
B. Sistem pendekatan belajar
Setelah jelas arah yang mau dituju melalui proses pembelajaran tersebut barulah dipilih pendekatan yang paling tepat untuk mencapainya. Pendekatan transendental dalam pembelajaran PAI adalah hal yang mutlak. Maksudnya guru agama harus senantiasa dapat mengaitkan segenap realitas baik berupa data maupun fenomena dengan realitas terdalam yaitu Allah. Harus pula dikuatkan setiap argumentasi yang penting dengan dalil nash, sehingga tidak menyisakan keraguan pada peserta didik.
Pembelajaran PAI juga yang berkaitan dengan nilai hendaknya digunakan pendekatan emosional. Artinya perasaan peserta didik mesti dilibatkan sehingga pembelajaran itu terasa berbekas dibatin peserta didik. Namun demikian jangan sampai melupakan pendekatan rasional, karena al-din huw al-‘aql la al-din li man la ‘aql lah.
Untuk mengembangkan pembelajaran agama haruslah dipilih sistem belajar-mengajar yang tepat pula. Berbagai sistem pengajaran yang menarik perhatian untuk dikaji juga bagi pembelajaran agama adalah sebagai berikut:
1. Inquiry-discovery approach (belajar mencari dan menemukan sendiri)
Dalam sistem belajar-mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran yang belum tuntas guna memberi peluang kepada peserta didik untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedur Inquiry-discovery approach tersebut adalah demikian:
a. Simulasi
Guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh peserta didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalah.
b. Problem statement
Anak diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan, kemudian mereka disuruh memilih permasalahan yang dianggap paling menarik dan fleksibel untuk dipecahkan. Permasalahan itu selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis sementara.
c. Data collection
Untuk menjawab pertanyaan atau menguji hipotesis yang ditawarkan di atas peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati obyek tertentu, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan berbagai upaya lain untuk menjawab permasalahan tersebut.
d. Data processing
Semua informasi dan data yang masuk diolah, diklasifikasikan, ditabulasi, bila perlu dihitung dengan teknik statistik tertentu untuk kemudian ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
e. Verifikasi
Berdasarkan hasil data prosessing yang berupa jawaban ataupun tafsiran itu dilihat kembali apakah pertanyaan/ hipotesis di atas telah terjawab atau tidak.
f. Generalisasi
Dari hasil pengecekan ulang antara jawaban/ tafsiran dengan pertanyaan/ hipotesis tersebut, selanjutnya peserta didik mencoba menarik kesimpulan atau generalisasi.
Sistem belajar yang dikembangkan oleh Bruner ini tampak sangat dipengaruhi prosedur penelitian –terutama kuantitatif-. Sistem semacam ini mungkin cocok untuk materi yang bersifat kognitif. Hanya saja sistem ini membutuhkan waktu yang banyak dan memungkinkan untuk takterkontrol sehingga bisa mengakibatkan kekaburan materi dan tujuan. Untuk membatas waktu sebaiknya guru harus terus mengontrol dan murid diarahkan saat mencari jawaban.
2. Expository approach
Sistem ini dikembangkan sebagai antitesa terhadap sistem Inquiry-discovery learning-nya Bruner karena dianggap kurang efisien. Adapun prosedur sistem ini adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
Guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi.
b. Apersepsi
Guru bertanya atau memberi uraian singkat untuk mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang diajarkan.
c. Presentasi
Presentasi dapat dilakukan guru melaluli ceramah atau menyuruh siswa untuk membaca bahan pelajaran yang sudah disiapkan.ResitasiDilakukan tanya-jawab terhadap apa yang telang dipelajari, atau siswa dipersilahkan untuk menyatakan kembali dengan kata-katanya sendiri tentang pokok-pokok masalah yang telah dipelajari.
Sistem ini tampak jauh lebih sederhana dari Inquiry-discovery, karena guru tetap menjadi pengendali utama dan tetap bisa menggunakan buku paket yang ada dengan mengkobinasikan dengan metode tanya jawab dan resitasi.
3. Mastery learning approach
Sistem ini di kemukakan oleh Carol berangkat dari adanya defferensiasi individu peserta didik yang tidak mungkin bisa disamaratakan. Oleh karenanya Carol mengatakan bahwa setiap anak didik akan mampu menguasai bahan pelajaran jika disediakan waktu atau kesempatan yang cukup untuk mempelajarinya. Penyediaan waktu yang cukup inilah yang menjadi konsentrasi sistem pembelajaran ini. Taraf belajar adalah Proporsi waktu yang disediakan untuk belajar (time allowed for learning), dengan waktu yang diperlukan untuk belajar (time needed for learning)
Waktu yang tersedia untuk belajar
Taraf belajar =
Waktu yang dibutuhkan untuk belajar

Carol tidak menafikan adanya faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa seperti kualitas pengajaran, kemampuan memahami siswa serta motivasi. Karena itu jika kita menghendaki siswa untuk menguasai bahan secara sempuna, bahan harus disusun dengan sempuna begitu juga dengan instrumen evaluasinya. Bahan pelajaran hendaknya disusun dalam satuan-satuan (unit) tertentu sampai kepada satuan terkeci yang bermakna (meaningful) dengan tetap tidak terpisahkan dari satuan yang lebih besar. Satuan bahan yang terkecil itulah yang disebut modul. Metode ini tampaknya cocok untuk pembelajaran membaca al-Qur’an.
4. Humanistic Learning (Pembelajaran humanistik)
Berangkat dari asumsi yang sama dengan Carol, pada pembelajaran ini sesuai namanya diupayakan lebih humanis. Peserta didik disadari sebagai individu yang bervariasi, oleh karena itu proses belajar hendaklah membantu setiap siswa agar sanggup mencapai perwujudan dirinya sendiri (self realization) sesuai kemampuan dan keunikan yang dimiliki. Adapun pendekatan yang dipilih adalah Inquiry-discovery. Taraf akhir dari pembelajaran dengan model humanistik ini diharapkan setiap peserta didik mampu untuk mengadakan aktualisasi diri (self actualization).
Dalam rangka pengembangan pembelajaran PAI, pelu juga diperhatikan pula pola-pola belajar yang ada guna peningkatan kualitas pembelajran itu sendiri. Pola-pola yang sudah lama dikenal dalam dunia pendidikan adalah seperti: 1). Signal learning (belajar isyarat), 2). Stimulus-response learning (belajar stimulus-respon), 3). Chaining (belajar mempertautkan), 4). Verbal association (belajar asosiasi verbal), 5). Discrimination learning (belajar membedakan), 6). Concept learning (belajar konsep/ pengertian), 7). Rule learning (belajar membuat generalisasi, hukum dan kaidah), 8). Problem solving (belajar memecah kan masalah).
C. Penetapan prosedur dan metode
Setelah guru menentukan spesifikasi dan kualifikasi perubahan prilaku yang diharapkan, setelah menetukan sistem dan pendekatan yang dipilih, hendaklah dibuat prosedur kegiatan belajar-mengajarnya. Setelah itu tentukan metode yang tepat dengan mempertimbangkan faktor religius, psikologis, biologis, materi pelajaran, sarana-pra sarana yang ada dan ketrampilan guru sendiri.
Metode-metode konvensional yang telah lama dikelompokkan terbagi atas metode mengajar kasikal dan individual. Metode mengajar konvensional itu adalah sebagai berikut:
METODE KLASIKAL METODE INDIVIDUAL

1. Metode Ceramah
2. Metode Tanya-jawab
3. Metode Demostrasi
4. Metode Sosiodrama
5. Metode Karyawisata
6. Metode Diskusi
7. Metode Kerja Kelompok
1. Metode Latihan
2. Metode Resitasi (Pemberian tugas)
3. Metode Eksperimen

Adapun metode/ teknik alternatif yang bisa digunakan juga dalam pembelajaran Agama Islam anatara lain:
No. Metode/ Teknik Pembelajaran Langkah-langkah aplikatif Modifikasi
1. The Power of Two a. Guru melemparkan masalah/ pertanyaan kepada siswa
b. Masing-masing siswa berupaya mencari jawaban sendiri-sendiri
c. Bertukar pikiran dengan teman sebelah.
d. Diambil jawaban paling benar
e. Siswa mempresentasikan jawaban
f. Dipilih jawaban paling benar.
2. Every One is a Teacher Here a. Guru memberikan bahan bacaan
b. Siswa membaca sebentar
c. Masing-masing membuat pertanyaan dalam sebuah kartu
d. Kartu diambil dan dibagikan secara acak kepada semua siswa
e. Masing-masing membaca pertanyaan dan menjawabnya bergantian
f. Siswa lain diberi kesempatan memberikan tanggapan

3. Critical Incident a. Siswa mengingat dan mendeskripsi kan pengalaman masa lalu yang menarik dan berkaitan dengan pokok bahasan
b. Siswa lain mengulas dan memberikan solusi
c. Mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut
Deskripsi tidak harus dengan lisan bisa juga dengan tulisan
4. Snowballing a. Guru melemparkan masalah
b. Masing-masing siswa berfikir
c. Diskusi dengan teman sebelah (2)
d. Diskusi dengan teman bangku lain (4)
e. Dibagi menjadi dua kelompok besar
f. Masing-masing kelompok presentsi

5. Card Sort a. Motivasi dari Guru
b. Bagi kertas (kartu) kosong secara acak
c. Guru menulis kata kunci di papan
d. Siswa mencari kata sejenis (satu tema) dengan temannya
e. Diskusi kelompok berdasarkan tema
f. Menyusun kartu di papan dan masing-masing kelompok presentasi
Diaplikasikan untuk pendalaman materi yang berjkaitan dengan bagian-bagian atau ciri-ciri.
6. Information Search a. Guru mementuk kelompok
b. Bagikan teks (materi pelajaran)
c. Siswa membaca secara berkelompok
d. Guru memberi pertanyaan untuk dijawab siswa
e. Kelompok siswa membuat jawaban
f. Presentasi
7. Learning Start with Question a. Guru membagikan teks yang relatif baru (asing)
b. Siswa membaca secara kelompok (minimal dua orang)
c. Mengutarakan isi bacaan sesusai yang difahami
d. Siswa yang lebih mengerti presentasi, memberi jawaban dan tanggapan

8. Team Quiz a. Guru membentuk tiga kelompok
b. Membagi tugas secara bergantian untuk membuat soal, jawaban dan penilaian
c. Buat skor masing-masing jawaban tiap kelompok
Cocok untuk pendalaman pada pertemuan akhir atau untuk evaluasi
9. Debat Aktif a. Guru membentuk dua kelompok
b. Ajukan permasalahan yang kontroversial (aneh)
c. Siswa mempersiapkan argumentasi Berdebat Saling membuat pertanyaan dan tanggapan

10. Brainstorming a. Menetukan topik
b. Siswa mencurahkan pendapat, ide dan gagasannya
c. Guru menulis, menginventarisir
d. Pendapat yang ada diseleksi dan diambil yang benar

11. Elisitasi a. Menetukan topik
b. Siswa mencurahkan pendapat, ide, dan gagasannya
c. Guru menyeleksi dan menulis di papan tulis

12. Mind Mapping (Konsep Map) a. Guru membagikan bacaan seseai pokok bahasan
b. Siswa mencari kata-kata kunci
c. Siswa membuat skema (peta konsep)
d. Presentasi, menjelaskan hubungan antar konsep yang ada

13. Role Playing a. Guru mengangkat berita aktual yang terkait dengan pokok bahasan
b. Menunjuk dua orang untuk memerankan karakter tokoh yang berbeda
c. Keduanya berdialog
d. Peserta lain mengamati
e. Guru meminta pemeran untuk menceritakan perasaannya
f. Guru meminta komentar siswa lainnya

Berbagai metode/ teknik pembelajran di atas kiranya dapat dijadikan pilihan bagi guru Agama Islam sehingga pembelajaran agama yang ada menjadi lebih menarik.
D. Penetapan norma atau kriteria keberhasilan
Penetapan norma atau keberhasila dimaksudkan agar guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran utnuk menilai sejauh mana keberhasialan proses belajar-mengajar yang dilaksanakan. Sistem penilaian merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalamproses pembelajaran. Evaluasi haruslah memperhatikan tujuan, karakter materi, dan kondisi peserta didik. Evaluasi akan memberikan gambaran riil pada guru tentang seberapa jauh tingkat penguasaan siswanya. Dari sini diketahui apakah proses pembelajaran itu berhasil atau tidak.

RANGKUMAN

TES FORMATIF – 1

Pilihlah salah satu jawaban a, b, c, atau d yang paling benar!
1. Yang membagi model pembelajaran menjadi dua yaitu pembelajaran insani/ humanistik (al-ta’lim al-insaniy) dan pembelajaran transendental (al-ta’lim al-rabbaniy) adalah:
a. Al-Naraqy
b. Al-Farabi
c. Al-Ghazali
d. Ibn Sina
2. Sistem belajar-mengajar dimana guru menyajikan bahan pelajaran yang belum tuntas guna memberi peluang kepada peserta didik untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah, disebut:
a. Expository
b. Humanistic Learning
c. Mastery learning
d. Inquiry-discovery
3. Carol mengatakan bahwa setiap anak didik akan mampu menguasai bahan pelajaran jika disediakan waktu atau kesempatan yang cukup untuk mempelajarinya. Adalah prinsip pendekatan…
a. Expository
b. Humanistic Learning
c. Mastery learning
d. Inquiry-discovery
4. Sistem pembelajran yang dikembangkan Bruner sebagai antitesa terhadap sistem Inquiry-discovery learning, karena dianggap kurang efisien, dinamakan pendekatan….
Arti kata yang digarisbawahi adalah…
a. Expository
b. Humanistic Learning
c. Mastery learning
d. Inquiry-discovery
5. Pendekatan pembelajran yang meyakini bahwa peserta didik disadari sebagai individu yang bervariasi, oleh karena itu proses belajar hendaklah membantu setiap siswa agar sanggup mencapai perwujudan dirinya sendiri (self realization) sesuai kemampuan dan keunikan yang dimiliki, adalah…
a. Expository
b. Humanistic Learning
c. Mastery learning
d. Inquiry-discovery
6. Di bawah ini yang tidak termasuk metode klasikal adalah …
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Latihan
d. Demostrasi
7. Dari beberapa metode di bawah ini yang termasuk metode individual dan bukan klasikal adalah …
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Demostrasi
d. Resitasi
8. Pendekatan pembelajaran yang menjadi landasan KTSP adalah:
a. Active learning
b. Mastery of learning
c. Joy ful learning
d. Contextual teaching-learning

9. Untuk menanamkan keyakinan kepada Allah dengan pendekatan inquairy discovery dapat dilakukan dengan:
a. Pemberian tugas/ Proyek
b. Indoktrinasi
c. Rasionalisasi
d. Eksposisi
10. Metode yang tepat untuk menjelaskan materi yang potensial memicu pro-kontra adalah:
a. Debat aktif
b. Snowballing
c. Every one is a teacher here
d. Tanya jawab

KUNCI JAWABAN

1. C
2. D
3. C
4. A
5. B
6. C
7. D
8. B
9. A
10. A

DAFTAR PUSTAKA

Ad. Rooijakkers, Mengajar dengan Sukses, Jakarta: Gramedia, 1980
Bobbi DePorter, Quantum Learning, New york: Deli publishing, 1992
C. A. Qodir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor, 1991
Al-Ghazali, Al-Munqid min al-Dlalal wa ma’ah Kimiyya` al-Sa’adah wa al-Qawa’id al-‘Asyarat wa al-‘Adab fiy al-Din, Beirut: Al-Maktabah al-Sa’biyah, tt.
_________, Al-Risalah al-Ladunniyah, dikumpulkan dalam kitab Majmu’at al-Rasail li Imam al-Ghazali, Jilid 3, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994
_________, Iyha` ‘Ulum al-din, Juz 1, Surabaya: Al-hidayah, tt
J. Mursell, Mengajar dengan Sukses (Succsessful Teaching), terj. S. Nasution, Bandung: Penerbit Jemmars, 1976
M.M. Syarif, M.A. (ed.), Para Filosof Muslim, terj. Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1996
N. K. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1989
Omar Muhammad al-Toumiy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
S. Nasution, Bebagai pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1987
_________, Didaktik Asas-asas Mengajar, Bandung: Penerbit jemmers, 1982
Tabrani Rusyan, dkk, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Karya, 1989
Winarno Surachmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar, Bandung: Penerbit Tarsito, 1980

Jalaluddin Rahmat, “Quantum Learning: Sebuah Pengantar” dalam Gema: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi 1 Agustus 1999, h. 35.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: