Modul I Pengembangan Pembelajaran PAI : PLPG IAIN Raden Intan Lampung 2012


PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENDAHULUAN

Saudara-saudari kami rahimakumullah, dalam modul pertama ini kita akan mendalami tiga tema inti yang dirasa penting untuk dikaji lebih lanjut. Ketiga hal itu berkaitan dengan masalah problematika pembelajaran, pembelajaran insani dan pembelajaran rabbani. Pada kegiatan belajar pertama (KB 1) kita akan mengkaji akar persoalan pembelajaran PAI seperti: persoalan ideologis-filosofis, persoalan institusional, kurikuler, dan sasaran pendidikan secara umum. Pada kegiatan belajar kedua akan dibahas masalah tujuan pembelajaran, pendekatan, prosedur, metode dan penetapan norma dan kriteria penilaian. Sedangkan pada kegiatan belajar ketiga akan didalami masalah pembelajaran yang bersifat rabbani dan beberapa tips pembelajran PAI yang efektif.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan anda dapat:
1. Menjelaskan akar persoalan pembelajran PAI.
2. Menjelaskan model pembelajaran insani
3. Menjelaskan model pembelajaran rabbani
4. Mengimplementasikan hala-hal penting dalam pembelajran PAI
Seluruh tujuan di atas diharapkan dapat anda capai melalui belajar madiri dengan modul ini. Karenanya bacalah modul ini dengan cermat, pahami dengan baik, sehingga anda terhindar dari kesalahpahaman dalam berbagai hal di atas.
Setelah anda selesai membaca, cobalah anda kerjakan tes formatif yang telah tersedia. Jika semua soal telah usai dikerjakan periksalah kembali, agar tidak ada keraguan atas pilihan jawaban yang telah anda tetapkan. Selanjutnya cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban yang ada di halaman belakang modul dan cobalah beri skor sesuai dengan pembobotan tiap soal yang telah ditetapkan. Dengan demikian anda akan mengetahui secara mandiri capaian hasil belajar yang anda peroleh.
Selamat memembaca dan semoga sukses selalu!

PROBLEMATIKA PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PAI
[

Pendidikan merupakan faktor terpenting dalam rekayasa masyarakat modern. Transformasi yang melibatkan berbagai elemen strata sosial dengan sentuhan dominan science dan teknologi, menuntut upaya penyiapan generasi yang cepat tanggap dengan tetap berpijak pada basis religiusitas dan humanisme yang ketat. Fenomena kehidupan yang kian kompleks, cepat dan instant bahkan tak jarang mengarah pada liberalisme dan meterialisme itu secara pasti akan mengikis nilai-nilai esensial dari eksistensi manusia itu sendiri. Maka menjadi sangat beralasan jika kemudian masyarakat menumpukan harapannya pada pendidikan untuk memaksimalkan peranannya sebagai agent of social change.
Sedangkan sebagai institusi konservasi nilai, masyarakat menumpukan kepada agama untuk menjawab, mengontrol dan mengantisipasi dinamika tersebut. Tanggung jawab konservasi nilai ini merupakan beban berat yang mau tidak mau harus dipikul oleh pendidikan agama (dalam hal ini Islam), sebagai bidang studi yang memiliki karakter sarat nilai relegiusitas. Yang menjadikan tugas ini semakin berat, adalah karena beban tersebut terkesan dipikul sendiri oleh disiplin ilmu yang berbasis pada nilai moral dalamhal ini pendidikan Agama Islam. Sementara fenomena demoralisasi semakin menajam terjadi dimasyarakat. Bahkan yang lebih tragis lagi dikalangan pelajarpun hal tersebut tidak kalah hancurnya. Bukankah hari ini para pelajar –terutama Jakarta- telah terbiasa berpesta tawuran pelajar yang takjarang berakhir dengan kematian. Sebuah tradisi Barbarisme yang semestinya tidak pantas bersanding dengan dunia intelektual.
Guru Agama Islam dengan segala keterbatasan yang ada diharapkan mampu menjadi “dewa penyelamat” guna menemukan solusi untuk keluar dari carut-marut moralitas ini. Padahal secara intern, Pendidikan Agama Islam tengah kelabakan untuk menjawab fenomena pembelajarannya yang cenderung hanya menekankan capaian ranah kognitif semata. Apalah artinya jika Ilmu Agama Islam hanya mampu dihafal dan dimengerti untuk kemudian diabaikan, tidak diimplementasikan. Sebuah fenomena yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai alim munafiq yang fasih al-lisan jahil qalbi wa al-‘amal ( fasih lisannya tetapi bodoh hati dan tidak punya amal prilaku).

A. Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sebelum dibahas pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu perlu diidentifikasi berbagai problematika yang menjadi kendala proses pembelajaran PAI. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan tentang pembelajaran PAI nantinya dapat tepat sasaran. Jika dianalisis secara mendalam eksistensi pembelajaran PAI tampak memiliki background yang sangat sulit. Kendala pembelajaran PAI itu terhampar dari tataran ideologis-filosofis hingga ke tataran praktis metodologis. Problematika itu dapat dipilah menjadi problema ideologis-filosofis, institusional (susana sekolah), Kurikuler dan masalah capaian ranah yang dinginkan (sasaran pendidikan).
1. Problematika Ideologis-Filosofis
Pendidikan Islam sesungguhnya menghadapi permasalahan yang sangat serius dalam tataran filosofis karena wacana pengetahuan dan teknologi saat ini berjalan tanpa kendali agama. Maka pengetahuan dan teknologi tak jarang berkembang menjadi problematika yang sedikit banyak menyulitkan penganut agama itu sendiri dalam hal ini Muslim. Rene Descartes, filosof rasionalisme, pioneer peradaban modern, menolak segala yang disebut sebagai kebenaran yang tidak rasional, tidak bisa diverivikasi. Jika ini yang melandasi science dan teknologi maka secara pasti agama akan tersisihkan –untuk tidak disebut terbuang-. Realitas ini mungkin tidak menjadi maslah bagi Barat yang memang membatasi peran agama dan iptek, namun bagaimana dengan kita sebagai Muslim?
Pendidikan Agama Islam secara ideal diharapkan mampu menjawab deskralisasi dan eksternalisasi dinamika science dan teknologi dari titik esensial transenden.. Proses desakralisasi dan eksternalisasi ini terjadi sejak awal transformasi science dan teknologi dari intelektual dan filosof Muslim kepada intelektual dan filosof Barat di Eropa, dengan menggunting nilai-nilai religiusitas sebagai akibat permusuhan intelektual dan gereja.
Dalam hal ini Sayed Husein Nasr, sebagaimana dikutip oleh Dr. C. A. Qadir, menegaskan bahwa
Pengetahuan dalam visi Islam mempunyai hubungan yang mendalam dengan realitas yang pokok dan premordial yang merupakan Yang Kudus dan sumber dari segala yang kudus. Hanya saja ketika pemikiran Avicena (Ibn Sina) (980-1037 M.) dan Averoes (Ibn Rusyd) (1126-1198 M.) memasuku Eropa dan memberi inspirasi dan dorongan, karya-karya mereka diperkenalkan dalam keadaan sudah dipotong-potong sehingga kehilangan kandungan kandungan spiritualnya. Sebagai akaibatnya pengetahuan hampir sepenuhnya mengalami eksternalisasi dan desakralisasi, terutama di kalangan ummat manusia yang sudah mengalami perubahan karena proses modernisasi. (C. A. Qodir, 1991: 3-4)
Sehingga menjadi wajar jika tidak kita temukan lagi kata Tuhan -kecuali hanya sekedar nama-, dalam wacana science dan teknologi tersebut. Maka menjadi sangat bisa dipahami jika pendidikan ini berdampak pada kegersangan pada aspek religiusitas. Celakanya hari ini kita tidak lagi bisa beranjak dari sekedar “taqlid” terhadap dinamika science dan teknologi dari Barat tersebut. Inilah tantangan yang bersifat idiologis filosofis yang harus diselesaikan oleh Pendidikan Agama Islam.
Tantangan tersebut dicoba dijawab dengan kiat islamisasi science sebagaimana digagas oleh Ismail Raji Alfaruqi, Nasr, Najib al-Attas, Osman Bakar dll. Semangat islamisasi science berangkat dari upaya untuk mengintegrasi kembali nilai-nilai religiusitas Islam dalam wacana science dan teknologi.
Memang benar bahwa dalam wacana Islam dikenal dualisme disiplin ilmu pengetahuan yakni ilmu agama (ilmu syar’iy) dan ilmu umum (ilmu ghair syar’iy). Al-Ghazali misalnya dalam Ihya` ‘Ulum al-Din dan Al-Risalah al-Ladunniyah dengan jelas memaparkan klasifikasi yang didasarkan pada dualisme tersebut. Namun demikian dualisme itu dipilih tidak karena pilihan filosofis lebih karena kebutuhan praktis. Dualisme merupakan kemestian untuk mempermudah penyajian dan pemahaman wacana pada peserta didik. Secara hakiki tampaknya tidak tidak dikenal adanya pemisahan ilmu agama dan umum itu. Al-Ghazali dalam hal ini menegaskan bahwa:
واكثر العلوم الشرعية عقلية عند عالمها واكثر العلوم العقلية شرعية عند عارفها
(Kebanyakan ilmu agama itu rasional bagi mereka yang mengerti, dan kebanyakan ilmu umum itu agamis (syar’iyyah) bagi yang mengetahui). (Al-Ghazali, 1994: 86)
Demikianlah dalam perspektif Islam, semua bidang ilmu pengetahuan –kecuali ilmu-ilmu berbahya seperti ilmu sihir yang merugikan dan ilmu astrologi yang menyesat kan- memiliki kaitan yang niscaya dengan Allah sebagai wajib al-wujud yang menjadi sebab pertama dan utama bagi segala sesuatu (maujudat).
Kesadaran bahwa segala ilmu pengetahuan adalah dari Allah dan semestinya diabdikan untuk Allah itu akan sangat membantu dalam pembentukan suasana yang Islami di sebuah institusi pendidikan. Kondisi tersebut pada gilirannya akan dapat berpengaruh langsung dalam pembentukan kepribadian peserta didik yang berwawasan luas dengan kesadaran religiusitas yang tinggi.
2. Problematika Institusional
Jauh panggang dari api, jika kita mengharapkan terwujudnya kepribadian yang Islami dengan tanpa didukung oleh suasana sekolah yang kondusif. Selama Pendidikan Agama Islam hanya dianggap sebagai pelengkap, terlebih jika paradigma dualisme disiplin ilmu mendominasi secara buta, maka jadilah guru Agama Islam seperti berteriak di tengah padang pasir. Capek dan melelahkan, dengan hasil yang tidak akan pernah menyentuh tataran afektif. Bagaimana mungkin bisa berhasil guru Agama Islam dalam membisakan peserta didik menutup aurat sementara guru lain untuk pembinanaan jasmaninya mengharuskan membukanya? Bagaimana mungkin keyakinan itu terbentuk jika ketika guru Agama Islam menjelaskan segala sesuatu dari Allah, sedang biologi mengajarkan teori Darwin secara sekuler? Guru agama serius menegaskan bahwa segala sesuatu itu berasal dari allah dan akan kembali kepadaNya sebagai sunnatullah, sementara para saintis (ahli fisika dan kimia) hanya memaknai fenomena itu sebatas hukum alam (natureal of law).
Maka masalah penciptaan kondisi yang kondusif ini mutlak diperlukan sebelum kita berbicara tenteng pengajaran PAI. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontradiksi nilai yang terjadi di sekolah tersebut yang secara serius dapat mengakibatkan splite personality, sebuah pribadi yang pecah, ambivalen. Sekolah mau tidak mau harus menyediakan kondisi kondusif (Islami) jika benar-benar menginginkan pendidikan Agama Islam maksimal di lembaga tersebut. Sebagai konsekwensinya sekolah semestinya terus berupaya menyediakan sarana ibadah secara memadahi disertai penciptaan suasana yang religius. Harus dibiasakan bertegursapa dengan salam, berjabat tangan, menghormati guru, menghargai dan mencintai kawan, kalau mungkin diadakan sholat berjamaah, sholat jum’ah. Yang lebih penting dari itu semua, sekolah harus dapat menyatukan visi dan misi iptek-imtaq itu pada segala unsur pendukung pendidikan di sekolah itu, baik pada tenaga edukatif, karyawan, maupun peserta pendidikan di institusi tersebut.
Tentu saja jika sekolah telah berbenah dengan menyediakan suana yang kondusif bagi inernalisasi nilai-nilai agama, dua dari tripusat pendidikan lainnya yang merupakan kategori pendidikan luar sekolah, keluarga dan masyarakat diharapkan juga dapat mengimbangi. Akan sangat janggal jika guru Agama Islam mengajarkan pada peserta didiknya untuk membiasakan sholat shubuh, sementara orang tuanya biasa bangun pukul 07.00 WIB. Akan sangat kesulitan bagi guru agama untuk menjadikan peserta didiknya lancar membaca al-Qur’an dengan fasih dan benar tajwid-nya, tanpa dukungan keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini akan sangat baik jika dapat ditunjang dengan pembelajaran al-Qur’an secara intensif baik di rumah seperti prifat jika orang tua tidak sanggup mengajarkannya sendiri atau di masyarakat dengan bentuk pendidikan diniyahnya.
Jika kondisi dan suasana kondusif seperti di atas bisa diwujudkan, maka pendidikan Agama Islam sebgai pioneer transfer ilmu agama dan pembentukan nilai tidak punya alasan lagi untuk memaksimalisasikan pendidikan agamanya.
3. Problematika Kurikuler
Masalah terpenting yang ada dalam pembahasan kurikulum menyangkut masalah kondisi kurikulum itu sendiri yang sudah semestinya diadakan analisis guna disesuaikan dengan dinamika wacana dan masanya. Ia harus dicermati ulang dari sudut isinya. Seperti persoalan beban kompetensi pakah terlalu ringan atau masih dirasa berat? tentunya harus dikaji ulang secara serius dengan tetap mengedepankan pentingnya pertimbangan faktor psikologis, esensial dan fungsional dalam menentukan scope, dan squence, dengan segenap keterbatasan yang ada. Perlu ditinjau ulang apakah tidak terjadi duplikasi dengan KD pada kelas dan jenjang yang berbeda.
Dari sudut pendekatan tampak jelas bahwa kurikulum PAI selama ini cenderung hanya menggunakan pendekatan yang dominan rasional. Problematika kurikulum ini sangat krusial karena inilah aturan main yang harus diterapan dalam proses pendidikan. Maka jika platform-nya bermasalah tentu akan sangat kesulitan dalam implementasi proses belajar-mengajarnya. Masalah yang terkait dengan kurikulum tersebut haruslah diseleseikan dengan pembahasan serius tentangnya yang dihadiri oleh para pakar dengan tetap memperhatikan praktisi dan “pasar”.
Hal yang juga sangat utopis adalah harapan kita untuk menanamkan secara tuntas nilai-nilai Agama Islam hanya dengan dua jam tatap muka setiap minggunya. Maka sebaiknya standarisasi internalisasi nilai religiusitas itu terpaksa harus dikaji ulang jika jam pengajaran PAI tidak bisa lagi di tambah. PAI dengan kondisi yang demikian mungkin hanya mampu memenuhi kompetensi dasar Agama Islam saja. Gejala semacam ini tampaknya telah disadari dan tengah dibenahi oleh para ahli kurikulum yang ada.
Adapun masalah pendekatan, strategi pembelajaran merupakan masalah yang diharapkan dapat memberikan solusi atas segala keterbatasan yang ada. Apapun kondisi dan situasi yang dihadapi pendidikan Agama Islam haruslah di tampilkan dengan pilihan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga segala keterbatasan tersebut dapat diminimalisir. Karena menunggu tersedianya kondisi dan situasi seringkali hanya menjadi tinggal harapan, maka alternatif pengembangan pembelajaran menjadi tak terelakkan. Di sinilah guru diharapkan dapat secara cerdas dan kreatif memanipulasi segala hal –dalam pengertian positif- guna memaksimalkan pendidikan Agama Islam. Di samping itu guru Agama Islam diharapkan dapat, memberikan argumentasi yang tangguh sehingga dapat membentengi keimanan peserta didik dari berbagai pemikiran yang terkadang destruktif. Permasalahn ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam pembahasan pengembangan pembelajaran pendidikan Agama Islam di bawah.
4. Sasaran Pendidikan Islam
Jika pemikiran taksonomi Bloom dicermati dari sudut wacana Islam, maka tampak ada hal sangat penting yang harus dipertimbangkan. Dalam wacana Bloom terlihat bahwa manusia terdiri atas aspek jasmani dan ruhani. Dimana tampilan jasmaniah dilihat melalui aspek psikomotorik dan tampilan ruhani diamati dari aspek kognitif dan afektif. Pada dasarnya dalam wacana Islam, terutama filasafat dan tasawuf- manusia juga dipersepsi terdiri atas aspek jasmani dan ruhani. Tampilan jasmani akan dapat juga terlihat dari ranah psikomotorik. Sedangkan tampilan ruhani semestinya dapat telihat dari ‘ranah’ al-Aql, al-Nafs dan al-Qalb. Masalahnya adalah apakah semua fenomena ranah al-Aql sepenuhnya dapat disamakan dengan ranah kognitif? Apakah dapat dibenarkan bahwa afektif itu disamakan dengan al-nafs dan al-qalb? Jika tidak, sampai batas-batas mana taksonomi Bloom dipakai? Tentu saja hal ini membutuhkan kajian lebih lanjut secara serius.
Untuk melihat lebih jelasnya perbedaan wacana tentang kualitas jiwa di bawah ini ditampilkan skematisasi daya manusia secara sederhana anatara perspektif Bloom dengan pemikir Muslim.
– Skematisasi manusia dalam perspektif Bloom
Manusia jasmani Psikomotorik
Ruhani Kognitif
Afektif
- Skematisasi manusia dalam perspektif Islam
Manusia Jasmani Psikomotoik
Ruhani Akal (al-Aql) —- Kognitif
Nafsu (al-Nafs) Afektif (?)
Hati (al-Qalb)
Sirr ( al-Sirr)
Yang membuat praktisi pendidikan Islam lebih mengenal pola Bloom, dari pada pola kualitas jiwa yang telah ada dalam wacana Islam adalah karena ranah atau daya-daya jiwa dalam pemikiran Muslim tersebut mengalami stagnasi. Hingga kini tampaknya tidak ada pemikir pendidikan Islam yang mencoba mem-break down dalam kata-kata operasional. Praktisi terjebak dalam rutinitas yang membuat mereka tidak terlalu berfikir banyak tentang ada tidaknya fakultas jiwa yang tidak tergarap dengan pengambilan pola Bloom itu.
Dalam kondisi seperti ini yang terpenting untuk segera disadari dan selanjutnya diharapkan menjadi landasan dalam proses pembelajaran kita adalah adanya sebuah kesadaran bahwa pola Bloom saja tidak memdahi untuk membentuk peserta didik yang sarat nilai. Perlu disadari juga bahwa dalam wacana Islam – terutama filsafat dan tasawuf- dinamika akal (kognitif) itu tidak hanya sampai pada batas analisis saja. Tetapi, menurut al-Farabi kemampuan akal itu bisa sampai pada level mustafad (acquired intellect), dimana akal dimungkinkan dapat berhubungan dengan malaikat (akal sepuluh). (MM Syarif, 1996: 70-73) Sehingga dapat mencapai pengetahuan intuitif. Bahkan al-Ghazali menegaskan bahwa banyak membaca sehingga dapat membuat abstraksi dan menemukan kesimpulan-kesimpulan universal adalah bagian dari metode untuk mencapai ilmu ladunniy. (Al-Ghazali, 1994: 74-85)
Mengenai ranah al-Nafs, haruslah disadari sepenuhnya bahwa nature nafsu itu adalah senantiasa menyeru kepada perbuatan buruk. Allah dalam al-Qur’an menyatakan:
وما ابرئ نفسي ان النفس لا مارة باالسؤ الا ما رحم ربي ان ربي غفور رحيم
“Dan aku tidak (sanggup) membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu senantisa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Qs. Yusuf/ 12: 53)
Dinamika nafsu dalam wacana Islam bergerak dari titik negatif untuk diusahakan sekuat mungkin ke arah positif. Secara sederhana graduasi itu di pilah menjadi tiga bagian nafsu ammarah bi al-su`, lawwamah, dan nafsu muthma’innah. Jika nafsu nafsu ammarah bi al-su` senantiasa menyeru pada keburukan, maka nafsu lawwamah (nafsu yang mencerca) berada dalam posisi transisi antar buruk dan baik. Seseorang yang dalam posisi ini ingin berada selalu dalam kebaikan namun ia tidak kuasa menghalau nafsu itu saat berkuasa. Oleh karena itu ia akan mencerca dirinya sendiri selepas melaksanakan keburukan itu. Sedangkan nafsu muthma’innah adalah nafsu yang telah tenteram, konsisten dalam kebenaran.
Secara lebih rinci dinamika nafsu tersebut oleh para pemikir Muslim dirinci secara hirarkis sebagai berikut: nafsu ammarah (ila Allah), lawwamah (li Allah), mulhamah (‘ala Allah), radliyah (fiy Allah), mardliyah (‘an Allah), dan terakhir adalah nafsu kamilah (bi Allah).
Jika proses pembelajaran itu ingin berhasil dalam penanaman nilai-nilai religiusitas hendaknya dintisipasi dan terus dikendalikan kondisi nafsu peserta didik. Karena keberanian kita untuk menganggap remeh masalah ini dapat berakibat fatal pada prilaku mereka. Siapapun mereka, -dalam perspektif ini- semua akan bergerak dari nafsu yang cenderung negatif, maka selayaknya guru mencari cara untuk mengatasinya. Tawuran pelajar yang tak jarang berakhir dengan kematian, misalnya, adalah akibat gagalnya pengendalian nafsu amarah.
Adapu al-Qalb adalah ranah yang paling ‘halus’ paling dalam yang memiliki fungsi untuk mengadakan kontak spiritual dengan Yang Transenden. Jika nafsu berhubungan dengan hal-hal yang bersifat materi, dan akal berhubungan dengan masalah logika dan fenomena, maka hati berhubungan dengan dunia spiritual. Kalau nafsu memiliki nature negatif, akal memiliki nature netral, maka hati memiliki nature positif. Karena hati adalah tempat hidayah Allah. Hati inilah yang dapat menyerap -melalui dzauq- segenap realitas metfisika melalui proses tadzakkur dan tafakkur. Oleh karenanya al-Ghazali menjelaskan bahwa cara lain untuk mendapatkan ilmu ladunniy adalah dengan riyadlah dan tafakkur. Hal ini dimungkinkan dalam Islam karena ilmu dalam perspektif Islam terbagi atas dua bentuk yakni ilmu empiris-rasional (ilm kasbiy) dan ilmu yang datang langsung dari Allah (ilm ladunniy).
Syekh Waqi’ juga telah menjawab keluhan Imam Syafi’iy tentang berkurangnya daya ingatan itu dengan syair sebagai berikut:
فان العلم نور من اله ونور الله لا يهدى لعاصي
(Karena sesungguhnya ilmu itu adalah ‘cahaya’ dan ‘Cahaya Allah’ tidak akan menerangi para pendosa).
Dalam pandangan Isam proses pembelajaran haruslah dapat mengolah, mereka daya sedemikian rupa sehingga nafsu dapat dikuasai oleh akal dengan pertimbangan hati. Kondisi pribadi yang harmonis itu digambarkan secara metaforis sebagai berikut:
Jiwa itu laksana sebuah negeri. Wilayahnya adalah dua tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh lainnya. Nafsu seksual (syahwat) adalah tuannya dan nafsu agresi (ghadlab) adalah penjaganya (polisi). Al-Qalb adalah raja dan al-Aql adalah perdana menterinya. Sang raja memerintah mereka semua hingga kokoh kekuasaan dan posisinya. Karena tuan tanah atas wilayah negeri itu adalah syahwat yang memiliki karakter pendusta, suka mementingkan hal yang remeh, dan berprilaku rendah. Penjaganya adalah ghadlab yang selalu berbuat jahat, pembunuh dan sekaligus pencuri. Jika sang raja membiarkan situasi negara ditangan mereka (nafsu seks dan agresi), maka negara akan hancur dan bangkrut. Merupakan suatu keharusan bagi sang raja untuk senantiasa bermusyawarah dengan perdana menteri dan menjadikan tuan tanah dan polisi itu ditangan perdana menteri. Jika hal ini dapat diwujudkan, niscaya akan kokohlah kekuasaan dan makmurlah negeri. Demikian juga hati, harus selalu bermusyawarah dengan akal dan menjadikan nafsu syahwat dan ghadlab di bawah kendali perintah akal. Sehingga mantap kondisi jiwa dan mampu mancapai sebab kebahagiaan dari ma’rifat al-hadlrah al-ilahiyyah. Namun bila akal diletakkan di bawah kekuasaan agresi dan seks, maka hancurlah jiwanya. Sedangkan hatinya akan bersedih di akhirat nanti. (Al-Ghazali, t.t.: 116)

Dari pemaparan di atas hendaklah menjadi pertimbangkan pendidik dalam proses pembelajaran yang seharusnya mempertimbangkan secara serius akan adanya keharmonisan tata ruhaniyah dari peserta didik. Hanya dengan meletakkan hati sebagai raja dan akal sebagai pemegang kendali segala keinginan seksual dan agresifitas sajalah, seorang peserta didik itu akan menjdi baik dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya baik secara prestasi kognitif semata.
Perlu disadari juga bahwa pendidikan Agama Islam -sebagaimana naturenya-, harus lebih diarahkan untuk sampai pada pada proses internalisasi nilai menjadi sikap dan kepribadian pesertadidik. Walaupun kita sadari sepenuhnya bahwa proses internalisasi itu haruslah didahului oleh proses transfer of knowledge, transfer of competences. Sebagaimana dirasakan bersama bahwa kecenderungan pendidikan Agama Islam hari ini dominan kognitif.
Bahkan tak jarang ditemui bentuk-bentuk prilaku pesertadidik yang bertentangan dengan teoritis yang mereka kuasai. Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa pengajaran agama terus dilaksanakan, akan tetapi tawuran jalan terus. Ini adalah akibat terlantarnya fakultas al-nafs dan al-qalb dalam proses pembelajaran PAI khususnya. Ketika kualitas keberagamaan peserta didik hanya diukur dari seberapa mampu dia menghafal apa yang diberikan oleh guru. Yang terjadi adalah pendanggalan dari realitas beragama itu sendiri. Maka harus dicarikan solusi untuk membuat pola pengajaran yang terintegratif, yang mampu menampilkan agama dalam tataran teoritis (kognitif) hingga tataran implementatif (afektif).

RANGKUMAN

TES FORMATIF – 1

A. Pilihlah salah satu jawaban a, b, c, atau d sebagai jawaban yang paling benar!
1. Dalam penerapan pembelajaran PAI yang baik dibutuhkan dukungan optimal dari pihak sekolah secara keseluruhan. Hal ini merupakan persoalan:
a. Sasaran Pendidikan c. Kurikuler
b. idiologis-filosofis d. Institusional
2. Menurut Sayid Hossen Nashr, perkembangan ilmu pengetahuan modern mengalami deskralisasi dan eksternalisasi. Realitas ini adalah merupakan persoalan;
a. Sasaran Pendidikan c. Kurikuler
b. idiologis-filosofis d. Institusional
3. Capaian ranah dalam pendidikan menurut taksonomi Bloom hanya meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan menurut para ulama Islam ada aspek-aspek ruhani lain yang harus digarap secara serius di dalam pembelajaran PAI seperti al-nafs, al-qalb, al-ruh dan al-sirr. Persoalan ini merupakan wilayah persoalan:
a. Sasaran Pendidikan c. Kurikuler
b. idiologis-filosofis d. Institusional
4. Betapapun benar bahwa dalam pembelajran KTSP harus diupayakan kontekstual dan menyeluruh, namun pada kenyataannya pembelajran PAI masih cenderung bersifat kognitif, terlebih jika diharapkan menyentuh aspek ruhaniah yang dibebankan para ulama’. Ini menendakan masih adanya persoalan ………. dalam pembelajaran PAI.
a. Sasaran Pendidikan c. Kurikuler
b. idiologis-filosofis d. Institusional
5. Gejala untuk memprofankan, menganggap sebagai hal yang semata-mata biasa tidak ada urusan transendetal dalam masalah pengetahuan disebut:
a. Deprofanisasi c. Eksternalisasi
b. Desakralisasi d. Internalisasi
6. Upaya untuk mengeluarkan, memutuskan hubungan antara pengetahuan itu sendiri dengan Allah sebagai Causa Prima disebut:
a. Deprofanisasi c. Eksternalisasi
b. Desakralisasi d. Internalisasi
7. Proses internalisasi nilai menjadi sikap dan kepribadian pesertadidik biasanya harus didahului oleh proses:
a. Kognitif c. Afektif
b. Psikomotorik d. Integratif
8. Dalam metaphor al-Ghazali tentang daya-daya jiwa al-Qalb diposisikan sebagai:
a. Wazir (Perdana Menteri) c. Raja
b. Bagian logistik d. Penjaga keamanan
9. Al-‘Aql (akal) dalam proses dinamika batin menurut al-Ghazali diposisikan sebagai:
a. Wazir (Perdana Menteri) c. Raja
b. Bagian logistik d. Penjaga keamanan
10. Sebenarnya potensi negative yang dominan dalam diri dan menjadi akar keburukan pada manusia itu adalah:
a. Al-Aql c. Al-Qalb
b. Al-Ruh d. Al-Nafs

KUNCI JAWABAN

1. D
2. B
3. A
4. C
5. B
6. C
7. A
8. C
9. A
10. D

DAFTAR PUSTAKA

Ad. Rooijakkers, Mengajar dengan Sukses, Jakarta: Gramedia, 1980
Bobbi DePorter, Quantum Learning, New york: Deli publishing, 1992
C. A. Qodir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor, 1991
Al-Ghazali, Al-Munqid min al-Dlalal wa ma’ah Kimiyya` al-Sa’adah wa al-Qawa’id al-‘Asyarat wa al-‘Adab fiy al-Din, Beirut: Al-Maktabah al-Sa’biyah, tt.
_________, Al-Risalah al-Ladunniyah, dikumpulkan dalam kitab Majmu’at al-Rasail li Imam al-Ghazali, Jilid 3, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994
_________, Iyha` ‘Ulum al-din, Juz 1, Surabaya: Al-hidayah, tt
J. Mursell, Mengajar dengan Sukses (Succsessful Teaching), terj. S. Nasution, Bandung: Penerbit Jemmars, 1976
M.M. Syarif, M.A. (ed.), Para Filosof Muslim, terj. Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1996
N. K. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1989
Omar Muhammad al-Toumiy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
S. Nasution, Bebagai pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1987
_________, Didaktik Asas-asas Mengajar, Bandung: Penerbit jemmers, 1982
Tabrani Rusyan, dkk, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Karya, 1989
Winarno Surachmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar, Bandung: Penerbit Tarsito, 1980

Jalaluddin Rahmat, “Quantum Learning: Sebuah Pengantar” dalam Gema: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi 1 Agustus 1999, h. 35.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: